Syarat Diterimanya Sedekah

Sedekah adalah ibadah yang utama. Banyak ayat Al-Quran dan hadits Nabi yang menjelaskan keutamaannya. Meski utama dan memiliki nilai yang besar di sisi Allah, namun sedekah bukan hanya sekedar ibadah harta yang dilakukan begitu saja. Belum tentu sedekah yang dialokasikan dengan jumlah besar bernilai di sisi Allah. Bahkan sedekah tersebut justru dapat menjerumuskan pelakunya ke neraka. Alangkah baiknya jika mengetahui hal-hal yang membuat sedekah itu diterima oleh Allah, agar kita sedekah kita sah, diterima, dan bernilai di sisi Allah. Bukan hanya sah. Karena belum tentu ibadah yang lahiriyahnya sah diterima oleh Allah Ta’ala.

  1. Didasari Keikhlasan

Yang dimaksud keikhlasan di sini adalah bersedekah semata karena takut kepada Allah, mengharapkan ampunan-Nya, dan menginginkan balasan dari-Nya. Bukan atas dasar keterpaksaan, malu kepada manusia, demi kepentingan duniawi, atau mengharapkan pujian dan reputasi. Allah berfirman tentang ucapan sebagian penduduk surga:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا. إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

“Sesungguhnya kami memberi kalian makan semata karena wajah Allah. Kami tidak menginginkan balasan maupun terima kasih dari kalian. Kami takut kepada Rabb kami di hari (wajah-wajah) penuh kemuraman yang sangat.” (QS. Al-Insan: 9-10)

Nabi bersabda tentang golongan orang yang pertama kali diadili di hari kiamat:

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“…. dan orang yang Allah lapangkan hidupnya dan Allah limpahkan kepadanya seluruh jenis harta. Ia pun didatangkan, lalu Allah memperlihatkan segala nikmat-Nya kepadanya hingga ia mengakuinya. Allah pun bertanya, “Apa yang telah engkau lakukan pada nikmat itu (harta)?” Ia menjawab, “Aku tidak meninggalkan aspek kebaikan mana pun yang Engkau sukai aku berinfak di dalamnya melainkan aku berinfak untuknya.” Allah berfirman, “Engkau telah berdusta! Justru engkau melakukan hal itu (berinfak) supaya engkau disebut “dermawan” dan hal itu telah disebut-sebut (ketika engkau masih hidup).” Kemudian Allah memerintahkan agar menyeretnya di atas wajahnya, lalu ia dicampakkan ke neraka.” (HR. Muslim: 1905 dari Abu Hurairah).

Allah bukan hanya tidak menerima sedekah yang diberikan tanpa keikhlasan, namun juga murka dan mencampakkan pelakunya ke dalam neraka, hatta ia telah menghabiskan hartanya untuk bersedekah dan memberi maslahat kepada manusia lainnya. Karena sedekah yang kita berikan bukanlah untuk-Nya dan Dia tidak membutuhkannya sama sekali. Namun sedekah itu justru untuk diri kita sendiri. Hanya saja Dia tidak mau dipersekutukan dengan siapa pun dalam beribadah kepada-Nya.

  • Tidak Berasal dari Hasil Harta Haram

Karena sedekah itu bernilai di sisi Allah, maka Allah tidak mungkin menerima ibadah yang dilakukan berasal dari sesuatu yang buruk menurut-Nya dan ia benci.

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim: 1015 dari Abu Hurairah).

Secara eksklusif, Rasulullah bersabda:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Tidak diterima shalat tanpa bersuci dan tidak (diterima) sedekah yang berasal dari ghulul.” (HR. Muslim: 224 dari Abdullah bin Umar)

Ghulul adalah khianat dan asalnya adalah mengambil (mencuri) harta rampasan perang (ghanimah) sebelum dibagikan.[1] Abul Abbas Al-Qurthubi mengatakan: “Ghulul disini bermakna khianat secara mutlak (dalam segala bentuknya) dan harta yang haram.”[2] Jika hasil mengambil ghanimah (harta rampasan perang) sebelum dibagikan -padahal harta itu berhak diambil setelah dibagikan- tidak diterima oleh Allah jika disedekahkan, lantas bagaimana dengan sedekah yang berasal dari hasil korupsi, menipu, memeras, mencuri, dan lain sebagainya?! Termasuk dalam hal ini harta hasil penjualan barang-barang haram seperti khamr, daging babi, narkotika, serta berbagai barang dan perbuatan yang diharamkan syariat. Abu Mas’ud Al-Anshari mengatakan:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ، وَمَهْرِ الْبَغِيِّ، وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

“Sesungguhnya Rasulullah melarang memakan hasil penjualan anjing, bayaran untuk pelacur, dan upah dukun.” (HR. Muslim: 1657)

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:

لَا يَحِلُّ ثَمَنُ الْكَلْبِ , وَلَا حُلْوَانُ الْكَاهِنِ , وَلَا مَهْرُ الْبَغِيِّ

“Tidak halal hasil penjualan anjing, upah dukun, dan bayaran pelacur.” (HR. An-Nasai: 4293 dan Abu Dawud: 3484 dari Abu Hurairah).

Bukan hanya barang, termasuk profesi yang haram. Seperti dukun, pelacur, rentenir, dan lain sebagainya.

  • Bukan Benda yang Diharamkan

Jikalau sebelumnya pembahasan tentang hasil, maka yang dibahas disini adalah benda itu sendiri. Sebab sedekah tidak melulu harus dengan alat tukar (seperti uang), namun adakalanya juga dengan benda seperti makanan, pakaian, kenderaan, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Maka sedekah dengan benda-benda yang diharamkan bukan hanya tidak diterima, namun juga tidak sah secara fiqih. Seperti menyedekahkah patung, lukisan bernyawa, minuman keras, makanan yang mengandung daging atau zat babi, makanan yang dipersembahkan untuk berhala, simbol-simbol agama lain (seperti salib) dan lain sebagainya.

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ , حُرِّمَتْ عَلَيْهِمْ الشُّحُومُ , فَجَمَلُوهَا فَبَاعُوهَا

“Semoga Allah melaknat kaum Yahudi. Diharamkan atas mereka lemak hewan, namun mereka mencairkannya lalu menjualnya.” (HR. Al-Bukhari: 2223 dan Muslim dari Abdullah bin Abbas)

Allah mengharamkan Bani Israil untuk memakan lemak hewan, namun mereka mengakalinya dengan menafsirkan “yang diharamkan hanya memakannya, bukan menjualnya”, lalu mereka pun melelehkannya hingga cair dan menjualnya. Adapun umat Islam, maka lemak hewan sudah dihalalkan untuk mereka, maka tidak jadi masalah andaikan pun dijual. Berbeda dengan benda-benda yang secara zat diharamkan dalam syariat Islam. Tentu yang dimaksud di sini adalah benda-benda yang diperintahkan oleh syariat untuk dimusnahkan dan diharamkan secara mutlak, bukan hanya benda atau sesuatu yang haram untuk dimakan. Sebab ada beberapa benda yang diharamkan untuk dimakan namun boleh dijual dan disedekahkan seperti keledai jinak, kulit bangkai, sutra dan perhiasan emas yang diharamkan untuk dipakai oleh kaum lelaki, dan sebagainya. Pada asalnya sesuatu yang zatnya diharamkan untuk dikonsumsi dalam bentuk apa pun atau yang diperintahkan oleh syariat untuk ditiadakan maka haram untuk dijual. Jika untuk mencari keuntungan komersil melalui perdagangan diharamkan, tentu untuk kepentingan ibadah seperti sedekah lebih diharamkan lagi.

  • Sesuatu yang layak

Bersedekah bukan hanya melihat pada keikhlasan dan kehalalan. Tetapi juga melihat pada kualitas material yang disedekahkan. Banyak material yang asalnya halal, namun karena sudah tidak layak lagi baru disedekahkan. Selain tidak diterima, ini juga akan menjurus pada penghinaan dan tindakan tidak beradab kepada para penerima manfaat sedekah. Seperti sedekah pakaian yang sudah sobek dan lusuh, buah dan sayuran busuk, makanan basi, kenderaan rusak, dan lain sebagainya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ

“Wahai orang-orang beriman, infakkanlah sebagian yang baik-baik dari apa yang telah kalian usahakan dan dari apa-apa yang telah Kami keluarkan dari bumi, dan janganlah kalian memilih yang jelek untuk kalian infakkan, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya kecuali dengan memicingkan mata…” (QS. Al-Baqarah: 267).

Sebaliknya, justru kita diminta oleh Allah menyedekahkan harta yang kita juga menyukainya. Dalam artian, kita bersedekah bukan karena kita khawatir benda itu akan sia-sia karena rusak, busuk, atau basi. Namun bersedekah semata karena menginginkan balasan dari Allah dan berusaha menyedekahkan sesuatu yang terbaik. Allah berfirman:

وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ

“Akan tetapi kebaikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kaum kerabat (yang membutuhkan), anak-anak yatim, miskin, ibnu sabil, dan peminta-minta….” (QS. Al-Baqarah: 177)

Ibnu Mas’ud menafsirkan firman Allah, “dan memberikan harta yang dicintainya…” yaitu:

يُعْطِي الرَّجُلُ وَهُوَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ يَأْمَلُ الْعَيْشَ وَيَخَافُ الْفَقْرَ

“Ketika seseorang berderma dalam keadaan ia masih sehat, hidup terbatas, membutuhkan kekayaan, dan khawatir jatuh miskin.” (AR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 3078)[3]

  • Tidak Menyakiti Hati Penerima Sedekah Melalui Sedekahnya

Meski sedekah ditujukan untuk menolong orang yang membutuhkan, bukan berarti sedekah bisa dijadikan sebagai alat untuk menghina dan merendahkan. Allah tidak mau ibadah kepada-Nya terkontaminasi dengan kezaliman dan perbuatan keji kepada makhluk-Nya. Tidak bersedekah sama sekali jauh lebih baik daripada bersedekah yang diiringi dengan kezaliman dan penghinaan. Allah berfirman:

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ (.) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Ucapan yang baik dan permintaan maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan perbuatan buruk. Dan Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menyia-nyiakan sedekah kalian dengan gemar mengungkit-ngungkitnya dan berkata-kata buruk (kepada penerima sedekah), seperti orang yang menginfakkan hartanya semata karena riya( ingin dilihat manusia) dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir….” (QS. Al-Baqarah: 263-264).

Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa sedekah bisa menjadi sia-sia di sisi Allah jika sedekah tersebut diiringi dengan perbuatan buruk atau perkataan buruk yang menyakiti hati si penerima sedekah, sebagaimana sia-sianya sedekah orang yang bersedekah tanpa keikhlasan akibat riya (pandangan manusia).

  • Tidak Mengungkit-ungkit Sedekahnya.

Sama halnya, mengungkit-ungkit sedekah yang diberikan dapat membuat sedekah tertolak dan sia-sia di hadapan Allah, sebagaimana ayat di atas. Ini semakin ditegaskan dengan firman Allah:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah kemudian tidak mengiringi apa-apa yang mereka infakkan dengan mengungkit-ngungkitnya dan berkata-kata buruk, bagi mereka pahala mereka di sisi Rabb mereka. Dan tiada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 262)

Bahkan khusus orang yang gemar mengungkit-ngungkit pemberiannya terdapat ancaman yang keras dari Nabi. Rasulullah bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ. قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارًا، قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Tiga orang yang Allah tidak akan berbicara dengan mereka di hari kiamat nanti, tidak melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Dzar Al-Ghifari mengatakan, “Rasulullah mengatakannya tiga kali”  -lalu Abu Dzar bertanya, “Sungguh celaka dan merugi mereka, siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Al-Musbil (Orang yang menjulurkan kainnya melebihi mata kaki), orang yang gemar mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang menjual dagangannya dengan sumpah-sumpah dusta.” (HR. Muslim: 106 dari Abu Dzar Al-Ghifari).

Rasulullah juga bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمُدْمِنُ عَلَى الْخَمْرِ، وَالْمَنَّانُ بِمَا أَعْطَى

“Tiga orang yang tidak memasuki surga: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang gemar minum khamr, dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya.” (HR. An-Nasai: 2562 dari Abdullah bin Umar)[4].

Inilah sekelumit syarat agar sedekah diterima. Adakalanya sedekah itu lahiriyahnya sah, namun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Segala sedekah yang lahiriyahnya tidak sah, tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala. Maka sudah seyogyanya selain bersedekah kita juga berusaha agar sedekah kita diterima oleh Allah. Wallahu a’lam


[1] Ibnul Atsir dalam An-Nihaya fi Gharibil Hadits III/380, An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim III/103

[2] Al-Mufhim I/479

[3] Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, lihat Al-Mustadrak ma’at Talkhis III/341. Dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya I/486. Syaikh Ahmad Syakir cenderung menshahihkannya dalam Tahqiq Tafsir Ath-Thabari III/341

[4] Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihut Targhib II/662 dan dihasankan oleh Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Ahmad X/322



Dukung Yayasan Al-Hijaz Al-Khairiyah Indonesia
Dengan berdonasi melalui:
Bank Syariah Mandiri (BSM)
7010 0538 91 a.n.
Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia

Kode Transfer ATM Bersama 451)
konfirmasi via SMS/WA ke
08 11111 0948
(Ust Arofah)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *