Bersedekah Bukan Hanya Ketika Lapang

Fatan Abu Miqdam

Bersedekah bukanlah ibadah yang remeh. Adakalanya seseorang dapat dinilai keimanan atau kemunafikannya melalui sedekah. Terlebih jika sedekahnya didasari atas keikhlasan dan kecintaan terhadap Islam dan Kaum Muslim. Bukan sebatas atas dasar kemanusiaan, solidaritas, atau empati. Karena itulah Rasulullah bersabda:

وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“…Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti (keimanan), dan Al-Quran adalah hujjah untukmu atau atasmu….” (HR. Muslim: 223 dari Abu Malik Al-Asy’ari)

Ya, bukti keimanan, ketakwaan, dan kesalehan. Sebab ketika seorang mukmin bersedekah, itu adalah bukti bahwa ia mampu menundukkan keegoisan nafsunya demi mematuhi perintah Rabb-nya. Namun, sebagian orang ada yang keliru bahwa sedekah itu dilihat dari kuantitas banyaknya harta yang disedekahkan. Anggapan seperti itu adalah keliru total. Justru sedekah terbaik itu dilihat dari 2 sisi. Sisi konsistensinya dan sis kondisinya ketika bersedekah.

Ini terangkum dari firman Allah ketika melukiskan salah satu karakter orang bertakwa yang berhak memperoleh ampunan dari Allah dan surga-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (.) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seperti langit dan bumi. Hanya dipersiapkan untuk orang-orang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak baik ketika saat lapang maupun susah, yang menahan amarahnya, dan gemar memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Dari ayat ini terdapat pelajaran bahwa sedekah hakiki yang membuat seorang hamba layak masuk surga dengan sedekahnya atau sedekah yang menjadi bukti atas ketakwaannya adalah bersedekah dalam kondisi apa pun. Baik ketika lapang maupun sulit, dimana ia konsisten terhadap sedekahnya ketika hidupnya sempit, meski mungkin jumlahnya tidak sebanyak ketika ia dalam keadaan lapang. Ini sesuai dengan sabda Nabi:

وَاعْلَمُوا أَنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Ketahuilah, amal yang paling Allah cintai adalah yang paling konsisten walau sedikit” (HR. Al-Bukhari: 6464 dan Muslim: 2818 dari Aisyah).

Begitu juga bersedekah dalam kondisi sulit, jauh lebih besar nilainya di sisi Allah ketimbang bersedekah dalam keadaan lapang. Sebab kecintaan seseorang kepada harta akan diuji tatkala hidupnya tengah sempit. Apabila cintanya kepada Allah lebih besar daripada harta, ia akan tetap berusaha bersedekah walau ia sempit, karena ia yakin Allah telah menjamin rizkinya. Sebaliknya, jika cintanya kepada harta lebih besar, maka ia akan memutus sedekahnya dan tidak berusaha untuk bersedekah. Dalam benaknya “nanti setelah aku lapang lagi, baru aku bersedekah!” Alangkah baiknya sabda Nabi berikut ketika beliau ditanyai oleh seorang lelaki, “Wahai Rasulullah, manakah sedekah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah menjawab:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الفَقْرَ، وَتَأْمُلُ الغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ،

“Engkau bersedekah ketika engkau masih sehat, memiliki sifat bakhil (karena hemat dan berusaha menumpuk harta), takut miskin, mengharapkan kekayaan, dan tidak menunda-nunda sedekahmu hingga nafas sampai ke tenggorokan (sakaratul maut)….” (HR. Al-Bukhari: 1419 dan Muslim: 1032 dari Abu Hurairah).

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa sedekah yang dicintai dan diinginkan oleh Allah adalah sedekah yang sifatnya konsisten. Tidak memandang kondisi. Inilah sedekahnya orang-orang yang bertakwa. Bukan sedekah yang sifatnya hanya sesekali, atau sedekah karena ada tujuan-tujuan duniawi tertentu, maupun sedekah ketika seseorang sedang menderita sakit menjelang sakaratul mautnya. Sungguh sedekah sebagaimana yang Allah cintai dan kehendaki amatlah sulit dijalankan, kecuali bagi hamba-Nya yang Dia mudahkan. Karena itulah Allah berfirman:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“…barangsiapa yang dilindungi dari sifat bakhil dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Semoga kita termasuk dari golongan yang menang tersebut. Wallahu a’lam



Dukung Yayasan Al-Hijaz Al-Khairiyah Indonesia
Dengan berdonasi melalui:
Bank Syariah Mandiri (BSM)
7010 0538 91 a.n.
Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia

Kode Transfer ATM Bersama 451)
konfirmasi via SMS/WA ke
08 11111 0948
(Ust Arofah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *