Apakah Sah Berqurban Padahal Belum Di Aqiqah? Mana Lebih Dulu, Aqiqah Atau Qurban?

Fatan Abu Miqdam

Kedua pertanyaan ini sering berulang dan ditanyakan oleh para jamaah menjelang Idul Adha. Tentu ini semua tidak lepas dari kehati-hatian seorang muslim dalam beramal agar senantiasa beramal di atas ilmu dan juga karena ingin memperoleh keutamaan berqurban pada idul adha. Bahkan sampai ada yang bertanya apakah boleh berqurban sekaligus aqiqah dan ini sudah kami jawab di pembahasan sebelumnya Hukum Menggabung Aqiqah & Qurban

  1. Pertanyaan Pertama: Apakah Boleh atau Sah Berqurban Padahal Belum Di aqiqah?

Jawaban: Pada asalnya, tidak ada hubungan antara keabsahan aqiqah dengan keabsahan qurban. Sebab kedua ibadah ini berbeda tujuannya, meskipun memiliki jenis yang sama yakni ibadah dengan cara mengalirkan darah hewan. Qurban adalah ibadah khusus pada 10 dzulhijjah hingga akhir hari tasyrik dan terkait ibadah haji, sedangkan aqiqah adalah ibadah khusus yang dilakukan karena kelahiran seorang anak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, sehingga siapa saja yang belum aqiqah sementara ia hendak berqurban, maka hukumnya sah secara mutlak. Begitu juga sebaliknya. Jawabannya adalah sah dan boleh berqurban bagi orang yang belum diaqiqahi sama sekali. Karena itulah kita tidak menemukan di dalam berbagai kitab fiqh pembahasan mengenai hal ini. Sebab, kedua ibadah ini (qurban dan aqiqah) adalah dua ibadah yang sama-sama disyariatkan dan tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Wallahu a’lam bish showab

  1. Mana Lebih Dulu? Aqiqah Atau Qurban? (Jika waktunya berdekatan dan dana terbatas)

Jawaban: Sebelum kita jawab, kita harus perinci dahulu masalah ini. Karena ibadah ini terkait keutamaan dan waktu.

Terkait Keutamaan, maka qurban lebih utama daripada aqiqah menurut mayoritas ulama. Sebab qurban hukumnya sunnah muakkadah menurut mayoritas Malikiyah, Syafiiyah, Hanabilah, hingga Dzhahiriyah [1]dan wajib menurut Hanafiyah dan salah satu pendapat Malikiyah[2]. Sedangkan aqiqah hanya sunnah biasa menurut mayoritas ulama[3] dan mubah (tidak disunnahkan sama sekali) menurut Hanafiyah[4], -sebagian ulama Hanafiyah bahkan mengatakan makruh-[5]. Sedangkan Dzhahiriyah mewajibkannya[6].

Terkait waktu. Para ulama sepakat bahwa waktu qurban hingga berakhir hari tasyrik[7]. Sedangkan waktu aqiqah menurut Syafiiyah dan Hanabilah sampai anak tersebut baligh[8] dan Hanafiyah mengatakan boleh kapan saja[9]. Hanya Malikiyah yang mengatakan harus hari ketujuh dan jika lewat maka tidak boleh lagi aqiqah.[10] Sementara Dzhahiriyah menyebutkan bahwa wajib aqiqah di hari ketujuh, namun jika terlewat tetap harus dilaksanakan walau lewat hari ketujuh.[11] Maka menurut mayoritas ulama waktu aqiqah lebih luas daripada qurban, sedangkan menurut Malikiyah dan Dzhahiriyah waktu qurban lebih luas daripada waktu aqiqah.

Kesimpulan:

Kesimpulan 1: Bagi mereka yang mengikuti mayoritas ulama, maka lebih baik mendahulukan qurban daripada aqiqah. Sebab qurban lebih utama dan lebih sempit waktunya daripada aqiqah, karena aqiqah lebih lama waktunya, yaitu sampai anak tersebut baligh (sekitar 15 tahun).

Kesimpulan 2: Bagi yang meyakini aqiqah hukumnya wajib dan yang mengikuti madzhab Maliki, maka aqiqah lebih diutamakan daripada qurban. Sebab menurut ulama ini, waktu aqiqah lebih sempit karena aqiqah hanya sekali seumur hidup dan hanya pada hari ketujuh saja, sedangkan qurban bisa setiap tahun.

Kesimpulan akhir, mayoritas penduduk Indonesia bermadzhab Syafii dan madzhab Syafii dalam hal ini selaras dengan mayoritas ulama dalam hal qurban dan aqiqah. Maka yang lebih baik adalah mengikuti mayoritas ulama, yaitu mendahulukan qurban daripada aqiqah. Namun yang paling utama adalah tetap melakukan kedua-duanya jika memungkinkan. Tentu ini tidak lepas jika waktu aqiqah berdekatan dengan waktu berqurban dan dengan dana terbatas.

Catatan: Walau sebagian ulama Malikiyah menetapkan waktu aqiqah hanya hari ketujuh saja tanpa boleh lebih dan tanpa boleh kurang, namun apabila bertepatan antara waktu aqiqah dengan qurban, sementara tidak ada harta kecuali hanya untuk membeli seekor kambing atau domba, maka lebih diutamakan berqurban daripada aqiqah, karena keutamaan qurban lebih kuat daripada keutamaan aqiqah menurut Imam Malik dan seluruh penganut madzhab beliau.[12]Maka jadilah keempat madzhab lebih mengutamakan qurban daripada aqiqah jika waktunya bertepatan dan dana terbatas, disamping qurban adalah perintah Allah secara langsung dalam al-Quran, berbeda dengan aqiqah. Ini semakin menguatkan kesimpulan akhir di atas. Wallahu a’lam bish Showab


[1] Malikiyah dalam Kholashatul Jauhar I/43, al-Fawakihud Dawani I/377. Syafiiyah dalam al-Majmu’ VIII/383, Raudhatuh Thalibin III/192. Hanabilah (Hanbali) dalam Muntahal Irodat II/196, al-Iqna’ I/408. Dzhahiriyah dalam al-Muhalla III/6. Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani –kedua shahabat Abu Hanifah- berpandangan sama dengan mayoritas ulama. Lihat al-Hidayah fi Syarh Bidayatil Mubtadi IV/355.

[2] Hanafiyah dalam al-Ikhtiyar V/16, al-Hidayah IV/355. Malikiyah dalam al-Kafi oleh Ibnu Abdil Barr I/418 dan al-Qayrawani dalam  ar-Risalah I/78. Para ulama Malikiyah ini menghukumi qurban dengan sebutan “Sunnah Wajibah.”

[3] Yaitu Malikiyah dalam at-Taju wal Iklil IV/389, Bidayatul Mujtahid III/14. Syafiiyah dalam Minhajuth-Thalibin I/321, asy-Syarhul Kabir XII/117. Hanabilah dalam al-Mughny IX/458, al-Furu VI/104.

[4] Lihat al-Badai’ush-Shanai’ V/69 dan ini yang dicenderungi oleh ath-Thahawi dalam Syarh Musykilil Atsar III/80. Sebagian Hanafiyah menganggapnya tidak sunnah, namun boleh yang sifatnya anjuran, yaitu karena daging aqiqah mengandung sedekah jika dibagikan. Mereka tidak menganggapnya sunnah dalam artian ditetapkan oleh syariat, namun dianjurkan karena asalnya berasal dari kebiasaan jahiliyah yang terus dilaksanakan dengan menghilangkan unsur kejahiliyahannya. Lihat at-Tajrid XII/6357 oleh al-Qudurawy.

[5] Demikian yang dijelaskan oleh al-Kasani al-Hanafi dalam al-Badai’ush Shanai’ V/127.

[6] Dzahiriyah dalam al-Muhalla VI/234. Sebagian ulama Hanabilah juga mewajibkan aqiqah seperti Abu Bakr al-Khallal, Abu Ishaq al-Barmaki, Abul Wafa Ibnu Aqil. Lihat al-Furu’ oleh Ibnu Muflih VI/104. Namun para ulama Hanabilah ini tidak mewajibkannya pada hari ketujuh, berbeda dengan Dzhahiriyah yang mewajibkan harus hari ketujuh. Laits bin Sa’ad juga mewajibkan aqiqah, namun jika telah lewat hari ketujuh, aqiqah tidak menjadi wajib lagi dan boleh jika tetap ingin diaqiqah. Berbeda dengan Dzhahiriyah yang tetap mewajibkannya meski lewat hari ketujuh, karena aqiqah harus diqadha menurut mereka apabila telah lewat hari ketujuh. Lihat at-Tamhid IV/311 oleh Ibnu Abdil Barr.

[7] Lihat Ikhtilaful Aimmatil Fuqaha I/332. Hanya saja para ulama berbeda pendapat mengenai batasan hari tasyrik maupun saat awal bolehnya berqurban.

[8] Syafiiyah dalam al-Majmu VIII/431, Hanabilah dalam al-Mughni IX/461.

[9] Pembahasan tentang aqiqah jarang dibahas oleh para ulama Hanafiyah, karena sifatnya yang boleh. Sehingga mereka tidak menaruh perhatian kepada aqiqah. Al-Kasani al-Hanafi menukil dari Muhammad bin al-Hasan –murid Abu Hanifah-: “Barangsiapa yang ingin silahkan ia lakukan, jika ia tidak mau maka tidak perlu ia lakukan.”Lihat al-Badai’ush Shanai’ V/69. Ini bagi yang mengatakan boleh. Sebagian ulama Hanafiyah bahkan mengatakan makruh dengan alasan karena merupakan berasal dari kebiasaan jahiliyah. Lihat al-Badai’ush Shanai’ V/127

[10] Malikiyah dalam Syarh Mukhtashari Khalil III/47 oleh al-Kharasyi. Lihat riwayat dari Imam Malik secara langsung berkenaan dengan hal ini dalam al-Bayan wat Tahshil III/391 oleh Abul Walid Ibnu Rusyd al-Jadd.

[11] Al-Muhalla bil Atsar VI/234

[12] LIhat al-Bayan wat Tahshil III/394.


Sudah tau mau Qurban dimana tahun ini?

Yayasan Al-Hijaz Al-Khairiyah Indonesia
menyelenggarakan Pengumpulan, Pemrosesan dan Pendistribusian Qurban setiap tahunnya.
Info Selengkapnya hubungi (Telp/Wa) :
0811 111 0948
Ust Arofah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *