SEBELUM KEMBALI MENANAM POHON KEBAIKAN

Sebuah Refleksi, Evaluasi dan Adaptasi Sistem Pendidikan Sekolah

Oleh: Faisal Mursila, S.Pd.I., M.Pd.I

Proses pendidikan tak ubahnya seperti orang yang bercocok tanam. Jika kita cermati dan renungkan lebih dalam maka akan tampak rangkaian proses yang kompleks. Proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman hingga membuahkan hasil mengandung hikmah penting bagi para guru, orangtua dan masyarakat.

Buah pendidikan yang tersaji dan dirasakan manfaatnya adalah hasil akhir dari proses panjang yang membutuhkan usaha dan kesabaran. Memang tak semudah dibayangkan, di mana sebagian besar masyarakat hanya melihat sepintas lalu. Dari pemandangan sawah dan kebun yang hijau tertata, hingga jadi tanaman padi yang menguning atau bunga yang indah, dan akhirnya berubah jadi buah. Padahal di sana ada tangan-tangan tekun yang bekerja di balik layar, menghadapi banyak tantangan yang menuntut kesabaran.

Ketika musim panen tiba, semua orang dapat menikmati hasilnya. Beras yang dikonsumsi misalnya, ada beragam jenis yang diklasifikasi secara bertingkat. Ada jenis medium dan ada pula jenis premium yang menunjukkan kualitas panen yang bervariasi, tentu saja harganya juga berbeda.

Dunia pendidikan sebagaimana ilustrasi di atas, tantangannya kini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Lahan semakin berkurang karena banyak alih fungsi lahan. Ada kendala tanaman pengganggu (gulma) yang dapat “mengalihkan isu” pendidikan, seperti halnya masalah gadget yang hari ini dihadapi oleh para guru dan orang tua.

Jika kita kembali mengumpamakannya dengan dunia bercocok tanam, selain gulma, ada juga hama perusak! Di dunia pendidikan, hama dan gulma itu menjelma dalam bentuk game dan aplikasi hiburan online lainnya.

Sejumlah persoalan lainnya yang bisa disebutkan seperti masalah pasokan pupuk yang harus tersedia. Selain sebagai sumber nutrisi tanaman, pupuk dibutuhkan untuk memperbaiki struktur tanah, ia diumpamakan sebagai pasokan logistik atau dukungan prasarana bagi peserta didik. Bagaimana hasil buahnya nanti, akan turut dipengaruhi oleh pasokan pupuknya.

Demikianlah problem yang dihadapi petani, ada yang bersifat internal adapula yang eksternal seperti keadaan cuaca dari tahun ke tahun yang kadang sulit diprediksi, ini menjadi tantangan berikutnya, kondisi tersebut tentu saja akan turut mempengaruhi waktu tanam dan jenis tanaman apa yang cocok.

Semua yang dipaparkan di atas adalah gambaran perumpamaan kondisi yang dialami peserta didik yang dinamis, begitu juga para pendidik yang diibaratkan sebagai petani, ia dituntut untuk dapat segera beradaptasi dengan lingkungannya. Intinya perlu antisipasi dini dan penanganan untuk segala kemungkinan buruk.

Maka pendidik perlu tambahan ilmu dan wawasan, dibutuhkan adanya metode-metode pendekatan baru, di samping penggunaan teknologi terapan yang lebih canggih! Hal ini karena cara-cara lama dan tradisional seperti yang dulu diwarisi turun temurun, tampaknya sudah tak begitu efektif lagi.

Mengajar dan menanam pohon kebaikan adalah tugas amanah dan kewajiban mulia yang patut dihargai dan diapresiasi. Jangan sampai para pendidik kita tergagap teknologi dan jadi kurang fokus, diantaranya karena terkendala minimnya fasilitas penting guna mendukung proses mengajarnya.

Selain soal fasilitas, pemangku kebijakan dan pimpinan lembaga pendidikan perlu memperhatikan dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan mendasar mereka secara proaktif. Untuk itu, keduanya juga perlu menghilangkan sekat-sekat komunikasi dengan mengedepankan adab dan akhlaqul karimah.

Tak jarang, ketika menghadapi kendala yang cukup berat, lalu terdengarlah ungkapan yang mengatakan; “kita saat ini, untuk bisa tetap eksis saja sudah lumayan.” Namun ungkapan dimaksud kesannya cenderung mencari pembenaran di “zona nyaman”, padahal perlombaan belum selesai, dan jatah waktu untuk berkarya semakin berkurang.

Maka sebelum kembali melanjutkan dan menentukan langkah, selayaknya setiap pihak meninjau sejenak langkah-langkah yang telah dilalui. Mungkin kita perlu menata dan mengatur langkah bersama sebelum kembali ber-fastabiqul khairat, selebihnya kita tawakkal ‘alallah!

Pendidikan sejatinya memang tugas dan tanggung jawab kita bersama. Tantangan akan selalu ada, pertanyaannya adalah sudahkah kita maksimalkan peran dan tanggungjawab kita? Wallahul muwaffiq.

Depok, Senin, 9 Maret 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *