Obat Penyesalan Itu Bernama Wakaf

Fatan Abu Miqdam

Setiap manusia pasti akan mati. Sudah menjadi takdir-Nya tidak akan ada manusia yang abadi. Semuanya akan dirundung mati dan tidak akan ada yang mengetahui kapan dan dimana manusia mati kecuali Dia yang menciptakan kematian itu sendiri. Tatkala seseorang mati, tentu tidak akan ada peluang baginya untuk beramal shaleh lagi. Namun uniknya, Allah menggambarkan ada ibadah yang amat diharapkan oleh seseorang ketika akan mati. Ibadah itu disebut secara khusus dalam firman-Nya berikut:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan infakkanlah apa yang telah Kami rezkikan kepada kalian sebelum datang kepada salah seorang kalian kematian, lalu ia berkata, “Wahai Rabb(ku), andaikan Engkau tunda (kematian)ku sebentar saja pasti aku akan bersedekah dan menjadi salah satu orang shaleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Ya. Dari sekian ibadah yang ada, calon mayit tersebut meminta agar diberi waktu bersedekah secara khusus. Ini menunjukkan besarnya pengaruh sedekah bagi seseorang menjelang matinya. Pastinya Allah belum tentu memberi penundaan baginya untuk bersedekah ketika ajalnya tiba. Bahkan cenderung tidak mungkin. Sebagaimana firman Allah pada ayat setelahnya:

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah tidak akan menunda (ajal) seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah akan mengabarkan apa-apa yangt kalian perbuat.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

Ini menjelang mati, bagaimana jika setelah mati? Ratapan dan penyesalan itu hanya semakin dalam dan menyiksa. Sampai-sampai para mayit akan mengemis dan mengiba. Aduhai kiranya ia diberi kompensasi untuk kembali lagi ke dunia?! Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Hingga tatkala datang kematian kepada salah seorang mereka, ia mengatakan: “Wahai Rabb(ku), kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat beramal shaleh yang dahulu telah aku tinggalkan.” (QS. Al-Mukminun: 99).

Jawabannya sama, Allah tidak akan mengizinkannya hidup sedikit pun dan kembali ke dunia barang sedetik pun. Namun Allah dengan rahmat-Nya memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya agar jangan sampai seperti gambaran dua tipe manusia di atas. Agar para hamba-Nya tidak perlu lagi memendam harapan diberi penangguhan sebelum ia wafat atau pahitnya penyesalan tatkala ia berada di akhirat. Rahmat itu adalah:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya para lelaki yang bersedekah, para wanita yang bersedekah, dan orang-orang yang memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan digandakan kepada mereka (balasannya) dan bagi mereka ganjaran yang mulia.” (QS, Al-Hadid: 18).

Allah memberi peluang untuk tetap beramal dan tetap akan dianggap beramal meski ia sudah meninggal dunia. Sehingga ia tidak perlu lagi berharap diberi penundaan waktu atau merasakan penyesalan ketika di alam baka. Sebab ia akan dihitung bersedekah walau ia tidak membawa harta ke dalam kuburnya. Bahkan ketika tidak ada yang tertinggal darinya selain tulang belulang dan pusaran nama. Rasulullah bersabda:

إذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia mati, terputuslah amalnya darinya kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim: 1631 dari Abu Hurairah).

Imam Nawawi menjelaskan, “Demikian juga sedekah jariyah, yaitu wakaf…. hadits ini menjadi dalil keabsahan hukum asal wakaf dan besarnya pahala wakaf…” (Syarh Shahih Muslim XI/85).

Maka yang dimaksud sedekah jariyah pada hadits itu adalah wakaf. Wakaf bisa menjadi pilihan bagi orang-orang yang tidak memiliki keilmuan yang lebih namun ingin terhindar di hari yang tiada lagi arti asa kecuali hanya kepasrahan. Atau pilihan bagi mereka tidak ada punya harapan memiliki anak cucu yang memiliki kesalihan atau mereka yang tidak diberi keturunan.

Terlebih jika wakaf tersebut produktif dan terus menghasilkan sepanjang tahun di mana hasilnya disedekahkan untuk kepeerluan fakir miskin secara khusus dan kaum muslimin secara umum. Wakafnya bukan hanya menyelamatkan dirinya dari siksaan, namun juga akan menyelamatkan umat Muhammad dari kemelaratan dan kerusakan. Tak terbayangkan betapa besarnya keutamaan dan ketinggian yang akan diperolehnya pada saat wajah-wajah makhluk tertunduk vakum.

Ibnu Umar menceritakan, “Umar bin Khaththab mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Lalu Umar mendatangi Rasulullah untuk meminta petunjuk tentang tanah itu. Umar bertanya: “Wahai Rasulullah, aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Tiada hartaku yang paling berharga melebihi tanah itu, apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah bersabda: “Jika engkau mau, tahanlah (wakafkanlah) pokok tanahnya, lalu sedekahkan hasilnya.” Ibnu Umar melanjutkan: “Umar pun mensedekahkan hasil panennya. Tanah itu tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan, tidak boleh, dan tidak boleh diwariskan, sementara hasilnya disedekahkan untuk fakir miskin, kaum kerabat, para mujahid, di jalan Allah, para musafir, dan tetamu yang berkunjung. Orang yang mengurusnya boleh memakan hasilnya sesuai kebutuhannya dan menafkahi keluarganya tanpa untuk memperkaya diri.” (HR. Al-Bukhari: 2737 dan Muslim: 1632).

Jikalau manusia sekaliber Umar yang dijanjikan masuk surga hingga setan pun takut kepadanya disarankan Nabi untuk berwakaf, padahal ia memiliki keturunan yang baik dan ilmu yang tinggi serta berjasa terhadap Islam, apatah lagi kita yang bukan siapa-siapa? Seharusnya kita lebih butuh kepada ibadah wakaf melebihi Umar?!!

Dukung Yayasan Al-Hijaz Al-Khairiyah Indonesia
Dengan berdonasi melalui:
Bank Syariah Mandiri (BSM)
7010 0538 91 a.n.
Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia

Kode Transfer ATM Bersama 451)
konfirmasi via SMS/WA ke
08 11111 0948
(Ust Arofah)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *