5 Bacaan Apabila Mendengar Adzan dan Keutamaannya

Simak Adzan santri Penghafal Al-Qur’an

Fatan Abu Miqdam

Adzan adalah sebuah panggilan shalat yang sering digaungkan sebagai tanda masuknya waktu shalat. Setiap hari 5 kali panggilan adzan dikumandangkan seiring dengan masuknya waktu shalat 5 waktu. Bahkan di sebagian tempat 6 kali adzan karena ditambah adzan menjelang masuk shubuh sebagaimana yang biasa dilakukan pada masa Nabi. Adzan merupakan syiar dan ciri khas ajaran Islam sebagai pembeda dari agama lain, khususnya kaum Nasrani yang biasa memakai lonceng dan kaum Yahudi yang biasa memakai terompet sebagai panggilan ibadah bagi mereka. Karena ini adalah syiar yang mengandung pesan inti ajaran Islam seperti adanya pengakuan akan tauhid dan risalah kerasulan Nabi Muhammad di dalamnya, makanya umat Islam pun diminta memperhatikan panggilan ini secara seksama dan Allah mempersiapkan keutamaan bagi mereka yang menghayatinya. Perhatian itu pun diwujudkan dengan membaca bacaan-bacaan tertentu ketika mendengarnya. Ada 5 bacaan berikut keutamaannya secara khusus bagi setiap muslim yang mau merutinkannya, disamping mengamalkannya termasuk bagian dari menyemarakkan syiar-syiar Islam dan menjalankan sunnah Rasulullah.

  1. Surga Bagi Yang Menjawab Adzan.

Abu Hurairah mengisahkan:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَامَ بِلَالٌ يُنَادِي، فَلَمَّا سَكَتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَالَ مِثْلَ هَذَا يَقِينًا دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Kami pernah bersama Rasulullah, lalu Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan. Setelah Bilal diam (selesai adzan), Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengatakan seperti (ucapan bilal) ini dengan penuh keyakinan, ia akan masuk surga.” (HR. An-Nasai: 674. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihut Targhib I/222. Al-Arnauth juga cenderung menshahihkannya dalam Tahqiq Shahih Ibnu Hibban IV/553).

Asalnya hadits ini adalah dari Muslim: 385 dari Umar bin al-Khaththab yang sudah jelas keshahihannya. Hanya saja pada redaksi Umar, ada pengkhususan pada lafal hayya ‘alash sholah dan lafal hayya ‘alal falah yang dijawab dengan lafaz hauqolah: laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

  1. Diampuni Dosa-dosanya

Yaitu bagi orang yang membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا،

“Aku bersaksi tiada ilah selain Allah yang tiada seorang pun menjadi sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. ridha Allah sebagai Rabb-ku, Muhammad sebagai Rasul-ku, dan Islam sebagai agamaku.” Ini sebagaimana sabda Nabi:

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

“Barangsiapa yang mengucapkan ketika ia mendengar muadzdzin (mengumandangkan adzan):  ‘asyhadu allaa ilaaha illalloh’ wahdahu laa syariikalah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh, radhitu billaahi robbaa, wa bi muhammadin rosuulaa, wa bil islaami diinaa’, akan dihapuskan untuknya dosa-dosanya.” (HR. Muslim: 386 dari Sa’ad bin Abi Waqqash).

Hadits di atas sama redaksinya dengan riwayat dari para penyusun kitab-kitab hadits lainnya yang lahiriyahnya tidak mengkhususkan bacaan tersebut ketika mendengar lafal-lafal adzan tertentu. Dalam artian, bacaan tersebut bukan jawaban atas lafal adzan. Bacaan tersebut dibaca ketika muadzdzin melafalkan lafaz adzan yang mana saja atau ia juga boleh membacanya setelah adzan. Ini jika kita mengikuti lahiriyah hadits di atas. Namun terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa bacaan itu dibaca ketika muadzdzin membaca lafal syahadat tauhid dalam adzan.

مَنْ سَمِعَ الْمُؤَذِّنَ يَتَشَهَّدُ فَالْتَفَتَ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang ketika ia mendengar muadzdzin melafalkan syahadat, lalu ia menoleh ke wajahnya, kemudian ia mengatakan: ‘asyhadu allaa ilaaha illalloh’ wahdahu laa syariikalah wa anna muhammadar rasuululloh, radhitu billaahi robbaa, wa bil islaami diinaa’, akan dihapuskan dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya: 422 dan ath-Thahawi dalam Syarh Ma’anil Atsar: 893. Al-A’zhami mengatakan dalam Ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah I/220: “Sanadnya jayyid.”).

Sehingga terdapat perbedaan para ulama dalam menentukan kapankah bacaan di atas dibaca. Sebagian ulama seperti Al-Bayhaqi, Ibnu Ruslan asy-Syafii, Syaikh Muhammad al-Amin al-Harari, dan Syaikh Sa’ad bin Wahf al-Qahthani memilih agar dibaca bertepatan ketika muadzdzin membaca syahadat tauhid.[1] Sebagiannya lagi seperti al-Hafizh as-Sindi al-Hanafi dan Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury memilih agar dibaca setelah adzan selesai.[2] Wallahu a’lam

  1. Allah Bershalawat Untuknya

Allah akan bershalawat kepada seseorang yang mendengar adzan mau bershalawat kepada Rasulullah setelah adzan selesai dikumandangkan. Ini berdasarkan hadits Nabi:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Apabila kalian mendengar orang mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Sebab barangsiapa yang bershalawat atasku, Allah akan bershalawat atasnya 10 kali.” (HR. Muslim: 384 Abdullah  bin Amru).

Disini amat jelas terlihat bahwa mengucapkan shalawat kepada Rasulullah disyariatkan untuk diucapkan secara khusus setelah selesai adzan. Bukan langsung memintakan wasilah kepada beliau.

  1. Dijanjikan Mendapatkan Syafaat Rasulullah Di Akhirat.

Syafaat ini diberikan bagi orang yang membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

“Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan ini. Berikanlah Muhammad wasilah yang utama dan anughrahkan kepadanya kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan untuknya.”

Ini berdasarkan sabda Nabi:

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mengucapkan ketika mendengar adzan: ‘allahumma robba haadzihid dakwatit taammah, wash sholaatil qoo-imah. Aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah, wab’asthu maqoomam mahmuudanil ladzii wa ‘adta’, maka halal baginya syafaatku nanti di hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari: 614 dari Jabir bin Abdillah).

Al-Bayhaqi menambahkan lafal:

إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Sesungguhnya Engkau tidak pernah menyelisihi janji.” (HR. Al-Bayhaqi dalam al-Kubra: 1933).

Tambahan ini dilemahkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil I/260-261, namun dihasankan oleh Syaikh Bin Baz dalam Tuhfatul Akhyar: 38. Adz-Dzahabi juga mendiamkannya sebagai tanda penshahihannya dalam al-Muhadzdzab I/406.

Doa ini dibaca setelah adzan, bukan ketika adzan. Ini sebagaimana lahiriyah hadits Nabi:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kalian mendengar orang mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah kepadaku. Sebab barangsiapa yang bershalawat atasku, Allah akan bershalawat atasnya 10 kali. Lalu mintalah kepada Allah wasilah untukku. Sebab ia adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali untuk satu orang saja dari kalangan hamba-hamba Allah. Aku berharap akulah itu orangnya. Maka barangsiapa yang memintakan untukku wasilah tersebut, halal baginya syafaatku” (HR. Muslim: 384 Abdullah  bin Amru).

  1. Dikabulkan Doanya.

Yaitu bagi orang yang menjawab adzab, bukan hanya sekedar mendengar saja. Berdasarkan riwayat dari Nabi. Abdullah bin Amru mengisahkan:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فإذا انتهيت فسل تعطه

“Seorang lelaki mengatakan kepada Rasulullah, ‘para tukang adzan itu telah mengungguli kami?!’ Rasulullah pun bersabda: “Ucapkanlah apa yang mereka ucapkan. Apabila kamu telah selesai (menjawab adzan), maka berdoalah kamu akan diberi.” (HR. Abu Dawud: 524. Dishahihkan oleh al-Arnauth dalam Tahqiq Sunan Abu Dawud I/394 dan al-Albani dalam Shahihut Targhib I/222).

Ini semakin dikuatkan dalam sabda beliau yang lain:

إِنَّ الدُّعَاءَ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ فَادْعُوا

“Sesungguhnya doa itu tidak akan tertolak ketika di antara adzan dan iqomah, maka berdoalah (disaat itu).” (HR. Abu Dawud: 521 dan at-Tirmidzi: 212 dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa I/262 dan al-Arnauth dalam Tahqiq Sunan Abu Dawud I/392).

Melihat segala keutamaan ini, maka tidak sepatutnya kita meninggalkan seluruh amalan ini begitu saja selama kita mampu melakukannya.  Wallahu a’lam bish showab


[1] Al-Bayhaqi dalam al-Kubra I/604 meletakkan hadits ini pada Bab “Apa yang dibaca setelah selesai adzan. Al-Harari dalam al-Kawkabul Wahhaj VII/37, al-Qahthani dalam Hishnul Muslim I/26, Ibnu Ruslan dalam Syarh Sunan Abu Dawud III/483

[2] Al-Mubarakfuri dalam Minnatul Mun’im I/254, as-Sindi dalam Fathul Wadud I/347.

Dukung Yayasan Al-Hijaz Al-Khairiyah Indonesia
Dengan berdonasi melalui:
Bank Syariah Mandiri (BSM)
7010 0538 91 a.n.
Yayasan Al Hijaz Al Khairiyah Indonesia

Kode Transfer ATM Bersama 451)
konfirmasi via SMS/WA ke
08 11111 0948
(Ust Arofah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *